Rabu, 05 Februari 2014

PENELITIAN PENGEMBANGAN ( R & D )



Wahyu Purwadi
Konsep Penelitian dan Pengembangan (R&D)
Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah proses untuk mengembangkan suatu produk baru untuk menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan. Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D), merupakan metode penghubung atau pemutus kesenjangan antara penelitian dasar dan penelitian terapan.
Penelitian  Pendidikan  dan  pengembangan  (R  &  D)  adalah  proses  yang  digunakan untuk  mengembangkan  dan  memvalidasi  produk  pendidikan.  Langkah-langkah  dari proses ini biasanya disebut sebagai siklus R & D, yang terdiri dari mempelajari temuan penelitian yang berkaitan dengan produk yang akan dikembangkan, mengembangkan produk berdasarkan temuan ini, bidang pengujian dalam pengaturan di mana ia  akan digunakan akhirnya , dan merevisinya untuk memperbaiki kekurangan yang ditemukan dalam  tahap  mengajukan  pengujian. Dalam  program  yang  lebih  ketat  dari  R  &  D, siklus  ini  diulang  sampai  bidang-data  uji  menunjukkan  bahwa  produk  tersebutmemenuhi tujuan perilaku didefinisikan.
Menurut  Sugiyono  (2009:407)  metode  penelitian Research and  Development yang  selanjutnya  akan  disingkat  menjadi R&D adalah  metode penelitian  yang  digunakan  untuk  menghasilkan  produk  tertentu,  dan  menguji, keefektifan  produk  tersebut.  Produk  tersebut  tidak  selalu  berbentuk  benda  atauperangkat keras (hardware), seperti buku, alat tulis, dan alat pembelajaran lainnya. Akan tetapi, dapat pula dalam bentuk perangkat lunak (software).
Penelitian  pengembangan  atau research  and  development (R&D) adalah  sebuah  strategi  atau  metode  penelitian  yang  cukup  ampuh  untuk memperbaiki  praktik  (Sukmadinata,  2009)
Menurut Sujadi (2003:164) Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D) adalah  suatu proses atau langkah-langkah untuk mengembangkan suatu produk baru, atau menyempurnakan produk yang telah ada, yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pelaksanaan Penelitian dan Pengembangan atau Research and Development (R&D), ada beberapa metode yang digunakan yaitu, metode deskriptif, evaluatif, dan eksperimental. Metode penelitian deskriptif, digunakan dalam penelitian awal untuk menghimpun data tentang kondisi yang ada mencakup : (1) kondisi produk-produk yang sudah ada sebagai bahan perbandingan atau bahan dasar (embrio) untuk produk yang akan dikembangkan, (2) kondisi pihak pengguna, seperti sekolah, guru, kepala sekolah, siswa, Berta pengguna lainnya, (3) kondisi faktor-faktor pendukung dan penghambat pengembangan dan penggunaan dari produk yang akan dihasilkan, mencakup unsur manusia, saran-prasarana, biaya, pengelolaan, dan lingkungan.
Metode evaluatif, digunakan untuk mengevaluasi proses uji coba pengembangan suatu produk. Produk dikembangkan melalui serangkaian uji coba, dan setiap kegiatan uji coba diadakan evaluasi, baik evaluasi hasil maupun evaluasi proses. Berdasarkan temuan-temuan hasil uji coba diadakan penyempurnaan-penyem­purnaan.
Metode eksperimen digunakan untuk menguji keampuhan dari produk yang dihasilkan. Walaupun dalam tahap uji coba telah ada evaluasi (pengukuran), tetapi pengukuran tersebut masih dalam rangka pengembangan produk, belum ada kelompok pembanding. Dalam eksperimen telah diadakan pengukuran selain pada kelompok eksperimen juga pada kelompok pembanding atau kelompok kontrol. Pemilihan kelompok eksperimen dan kelompok kontro dilakukan secara acak atau random. Pembandingan hasil eksperimen men pada kedua kelompok tersebut dapat menunjukkan tingkat keampuhan dari produk yang dihasilkan.

Langkah-langkah Penelitian Pengembangan
Menurut Sugiyono (2011:408) langkah-langkah pelaksanaan strategi penelitian dan pengembangan yang dilakukan untuk menghasilkan produk tertentu dan untuk menguji keefektifan produk yang dimaksud, adalah :
Potensi dan Masalah , Pengumpulan data, Desain Produk ,  Validasi Desain , Revisi Desain,  Ujicoba Produk,  Revisi Produk , Ujicoba Pemakaian, dan   Produksi Massal.
1.        Potensi dan masalah
Penelitian ini dapat berangkat dari adanya potensi atau masalah. Potensi adalah segala sesuatu yang bila didayagunakan akan memiliki suatu nilai tambah pada produk yang diteliti. Pemberdayaan akan berakibat pada peningkatan mutu dan akan meningkatkan pendapatan atau keuntungan dari produk yang diteliti. Masalah juga bisa dijadikan sebagai potensi, apabila kita dapat mendayagunakannya. Sebagai contoh sampah dapat dijadikan potensi jika kita dapat merubahnya sebagai sesuatu yang lebih bermanfaat. Potensi dan masalah yang dikemukakan dalam penelitian harus ditunjukkan dengan data empirik.
2.        Mengumpulkan Informasi dan Studi Literatur
Studi ini ditujukan untuk menemukan konsep-­konsep atau landasan-landasan teoretis yang memperkuat suatu, produk. Produk pendidikan, terutama produk yang berbentuk model, program, sistem, pendekatan,software dan sejenisnya memiliki dasar-dasar konsep atau teori tertentu.
3.        Desain Produk
Produk yang dihasilkan dalam produk penelitian research and development bermacam-macam. Desain produk harus diwujudkan dalam gambar atau bagan, sehingga dapat digunakan sebagai pegangan untuk menilai dan membuatnya serta memudahkan fihak lain untuk memulainya Desain sistem ini masih bersifat hipotetik karena efektivitasya belum terbukti, dan akan dapat diketahui setelah melalui pengujian-pengujian.
4.        Validasi Desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam hal ini sistem kerja baru secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan secara rasional, karena validasi disini masih bersifat penilaian berdasarkan pemikiran rasional, belum fakta lapangan.

5.        Perbaikan Desain
Setelah desain produk, divalidasi melalui diskusi dengan pakar dan para ahli lainnya . maka akan dapat diketahui kelemahannya. Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi dengan cara memperbaiki desain. Yang bertugas memperbaiki desain adalah peneliti yang mau menghasilkan produk tersebut.
6.        Uji coba Produk
Desain produk yang telah dibuat tidak bisa langsung diuji coba dahulu. Pengujian dapat dilakukan dengan ekperimen yaitu membandingkan efektivitas dan efesiensi sistem kerja lama dengan yang baru.
7.        Revisi Produk
Pengujian produk pada sampel yang terbatas tersebut menunjukkan bahwa kinerja sistem kerja baru ternyata yang lebih baik dari sistem lama. Perbedaan sangat signifikan, sehingga sistem kerja baru tersebut dapat diberlakukan.
8.        Ujicoba Pemakaian
Setelah pengujian terhadap produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting, maka selanjutnya produk yang berupa sistem kerja baru tersebut diterapkan dalam kondisi nyata untuk lingkup yang luas. Dalam operasinya sistem kerja baru tersebut, tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan yang muncul guna untuk perbaikan lebih lanjut
9.        Revisi Produk
Revisi produk ini dilakukan, apabila dalam perbaikan kondisi nyata terdapat kekurangan dan kelebihan. Dalam uji pemakaian, sebaiknya pembuat produk selalu mengevaluasi bagaimana kinerja produk dalam hal ini adalah sistem kerja.
10.    Pembuatan Produk Masal
Pembuatan produk masal ini dilakukan apabila produk yang telah diujicoba dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi masal. Sebagai contoh pembuatan mesin untuk mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat, akan diproduksi masal apabila berdasarkan studi kelayakan baik dari aspek teknologi, ekonomi dan ligkungan memenuhi. Jadi untuk memproduksi pengusaha dan peneliti harus bekerja sama.
Adapun  bagan  langkah-langkah  penelitiannya  seperti  ditunjukkan  pada  gambar
berikut.
Pengumpulan data
 
Desain
 produk
 
Potensi dan Masalah
 
Validasi
Desain
 
 

 
Ujicoba pemakaian
 
Revisi
 desain
 
Ujicoba
produk
 
Revisi
Produk
 
 


 
 








 



Gambar 1. Langkah-langkah penggunaan Metode Research and Development
(R&D) menurut Sugiyono
Borg & Gall (1983:775) mengembangkan 10 tahapan dalam mengembangkan model, yaitu:
1.      Research and information collecting,  termasuk dalam langkah  ini antara   lain studi literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji, pengukuran kebutuhan, penelitian dalam skala kecil, dan persiapan untuk merumuskan kerangka kerja penelitian;
2.      Planning,  termasuk dalam langkah ini menyusun rencana penelitian yang melip uti merumuskan kecakapan dan keahlian yang berkaitan dengan permasalahan, menentukan tujuan yang akan dicapai pada setiap tahapan, desain atau langkah- langkah penelitian dan jika mungkin/diperlukan melaksanakan studi kelayakan secara terbatas;
3.      Develop preliminary form of product,   yaitu mengembangkan bentuk permulaan dari produk yang akan dihasilkan. Termasuk  dalam langkah ini adalah persiapan komponen pendukung,  menyiapkan pedoman dan buku petunjuk, dan melakukanevaluasi terhadap kelayakan alat - alat pendukung.
4.      Preliminary field testing,  yaitu melakukan ujicoba lapangan awal dalam skala terbatas, dengan melibatkan 1 sampai dengan 3 sekolah, dengan jumlah 6- 12 subyek. Pada langkah ini pengumpulan dan analisis data dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi atau angket; 
5.      Main product revision, yaitu melakukan perbaikan terhadap produk awal yang dihasilkan berdasarkan hasil ujicoba awal. Perbaikan ini sangat mungkin dilakukan lebih dari satu kali,sesuai dengan hasil yang ditunjukkan dalam ujicoba terbatas,sehingga diperoleh draft produk (model) utama yang siap diuji coba lebih luas.
6.      Main field testing,  biasanya disebut ujicoba utama yang melibatkan khalayak lebih luas, yaitu 5 sampai 15 sekolah, dengan jumlah subyek 30 sampai dengan 100 orang. Pengumpulan data dilakukan secara kuantitatif, terutamadilakukan terhadap kinerja sebelum dan sesudah penerapan ujicoba. Hasil yang diperoleh dari ujicoba ini dalam bentuk evaluasi terhadap pencapaian hasil ujicoba (desain model) yang dibandingkan dengan kelompok kontrol. Dengan demikianpada umumnya langkah ini menggunakan rancangan penelitian eksperimen; 
7.      Operational product revision,  yaitu melakukan perbaikan/penyempurnaan terhadap  hasil ujicoba lebih luas, sehingga produk yang dikembangkan sudah merupakan desain model operasional yang siap divalidasi; 
8.      Operational field testing,  yaitu langkah uji validasi terhadapmodel operasional yang telah dihasilkan. Dilaksanakan pada 10 sampai d engan 30 sekolah melibatkan 40 samapi dengan 200 subyek. Pengujian dilakukan melalui angket, wawancara, danobservasi dan analisis hasilnya. Tujuan langkah ini adalah untuk menentukan apakah suatu model yang dikembangkan benar- benar siap dipakai di sekolah  tanpa harus dilakukan pengarahan atau pendampingan oleh peneliti/pengembang model; 
9.      Final product revision,  yaitu melakukan perbaikan akhir terhadap model yang dikembangkan guna menghasilkan produk akhir (final);
10.  Dissemination and implementation,  yaitu lan gkahmenyebarluaskan produk/model yang dikembangkan kepada khalayak/masyarakat luas, terutama dalam kancah pendidikan. Langkah pokok dalam fase ini adalah mengkomunikasikan danmensosialisasikan temuan/model, baik dalam bentuk seminar hasil penelitian, pub likasi pada jurnal, maupun pemaparan kepada skakeholders  yang terkait dengan temuan penelitian. 

Daftar Pustaka
Sugiyono, 2009. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Jakarta : Alfhabeta
Sujadi,  2002. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta. Rineka cipta
Sukmadinata, Nana Sy. 2004. Kurikulum dan Pembelajaran Kompetensi.Bandung: Kesuma Karya
Sukmadinata, Nana Syaodih. 2005. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Rosdakarya

PENYESUAIAN DIRI DAN LINGKUNGAN KARIR



PENYESUAIAN DIRI DAN LINGKUNGAN KARIR
 ( Wahyu Purwadi)
A.    Penyesuaian Diri
Penyesuaian diri  adalah suatu usaha individu untuk dapat merubah dirinya ketika mereka berada di lingkungan keluarga, sekolah dan di masyarakat yang dapat ditunjukkan melalui aktifitas-aktifitas seperti: dapat menguasai lingkungan dimana individu berada, penuh percaya diri, bersedia menerima teman dalam kelompok, bersedia mengatasi masalah, dan bersedia merencanakan sesuatu dengan pikiran.
Kriteria indvidu yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, antara lain sebagai berikut:
1)   Mampu dan bersedia menerima tanggungjawab yang sesuai dengan usia.
2)   Bersedia menerima tanggung jawab yang berhubungan dengan peran mereka dalam hidup.
3)   Segera menangani masalah yang menuntut penyesuaian.
4)   Senang memecahkan dan mengatasi berbagai hambatan yang mengancam kebahagiaan.
5)   Mengambil keputusan dengan senang, tanpa konflik dan tanpa banyak meminta nasihat
6)   Lebih banyak memperoleh kepuasan dari prestasi yang nyata
7)   Dapat menggunakan pikiran sebagai alat untuk merencanakan sesuatu.
8)   Belajar dari kegagalan dan tidak mencari-cari alasan untuk menjelaskan kegagalan.
Penyesuaian dalam bimbingan karir adalah mampu bekerja kerasa dengan sungguh-sungguh serta berusaha untuk memperoleh hasil yang baik, mampu bekerja teratur dan tertib dalam aturan-aturan yang telah ada, bekerja teratur dan tertib aturan-aturan yang telah ada, bekerja secara kreatif, dapat mengabil keputusan sendiri. Dalam penyesuai diri terhadap lingkungan karis mampu bekerja sendiri tanpa merugikan diri sendiri maupun orang lain, mampu menghadapi perubahan lingkungan yang ada serta mampu bergaul dan beradaptasi terhadap kegiatan orang lain.
Seseorang yang berhasil menyesuaikan diri adalah mereka yang :
1)   Dapat memenuhi kebutuhannya tanpa melebih-lebihkan atau mengurangi kebutuhan yang lain.
2)   Tidak mengganggu individu lain dalam melakukan  penyesuaian diri atau dalam memenuhi kebutuhannya, sehingga kerukunan hidup antar sesama terjaga.
3)   Melakukan pertanggungjawaban sewajarnya terhadap sesama dalam arti pertanggungjawaban terhadap masyarakat dimana ia berada.
 Jadi untuk dapat mengerti hakekat penyesuaian diri yang baik maka memerlukan hakekat mengenai kebutuhan manusia. Dengan demikian kita lebih mengerti  diri sendiri dan mengetahui cara berjuang untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan sehari-hari.
Respon penyesuaian baik atau buruk, secara sederhana dapat dipandang sebagai suatu upaya individu untuk mereduksi atau menjauhi ketegangan dan untuk memelihara kondisi-kondisi keseimbangan yang lebih wajar. Penyesuaian adalah sebagai suatu proses kearah hubungan yang harmonis antara tuntutan internal dan tuntutan eksternal. Dalam proses penyesuaian diri dapat saja muncul konflik, tekanan, frustasi dan individu didorong meneliti berbagai kemungkinan perilaku untuk membebaskan diri dari ketegangan.
Proses penyesuaian diri itu dapat berlangsung sebagai berikut :
1)      Pada awalnya individu memiliki dorongan keinginan untuk memperoleh eksistensi dalam kehidupannya dan disisi lain individu itu memperoleh tuntutan-tuntutan dariluar (lingkungan masyarakat)
2)      Individu itu mempelajari keadaan dirinya maupun tuntutan-tuntutan dari luar ( keadaan lingkungan)
3)      Pemahaman tentang dirinya dan keadaan lingkungannya.
4)      Individu itu kemudian melakukan upaya menginteraksi keadaan atau dorongan-dorongan dari dalam dirinya dengan tuntutan-tuntutan dari lingkungannya.
5)      Dengan interaksi tersebut individu itu kemudian melakukan tindakan baik yang bersifat negatif maupun positif atau kombinasi antara keduanya dengan kata lain tindakan yang dilakukan itu merupakan upaya penyesuaian diri.

B.     Lingkungan Karir
Lingkungan Karir merupakan salah satu dari penyebab keberhasilan dalam pelaksanaan suat karir atau pekerjaan, tetapi juga merupakan suatu penyebab kegagalan dalam dunai kerja.
Utuk memperoer tentang dunia kerja maka inforsmasi pekerjaan merupakan sebuah penunjang utama dalam bimbingan karir, pengetahuan tentang lingkungan kerja akan sangat mempengaruhi keberhasilan seseorang dalam menjalankan karinya. Ada tiga aspek penting yang barkaitan dengan lingkungan karir adalah sebagai berikut:
1)      Menggambarkan pekerjaan
2)      Kondisi pekerjaan atau masalah gaji
3)      Membantu mengetahi karakteristik dan kebutuha untuk masing-masing pekerjaan.
Lingkungan karir juga harus disesuaikan dengan bakat, prestasi, minat , nilai dan kebpirbadiannya. Dalam lingkungan karir juga harus disesuaikan dengan tahap pengembangan karir, adapaun tahap –tahap pengembangan karir tersebut adalah :
1)      Tahap Petumbuhan
2)      Tahap eksplorasi
3)      Tahap pendirian
4)      Tahap pemeliharan
5)      Tahap kemundurun.
Pemahaman tentang lingkungan karir tidak terlepas dari realisme keptusan karir dimana perbandingan antara kemampuan individu dengan pilihan pekerjaan secara realistis. Dalam menentukan realisme keputusan karir setidaknya mampu; 1) memiliki pemahaman yang baik tentang keputusan dan kelemahan diri yang berhubungan dengan pilihan karir yang diinginkan;2) mampu melihat faktor-faktor yang akan mendukung taup menghambar karir yang diinginkan;3) mampu melihat kesempatan yang ada berkaitan dengan pilihan karir ang diinginkan;4) mampu melihat salah satu alternatif pekerjaan dan berbagai pekerjaan yang beragam; 5) dapat mengembangkan kebiasan belajar dan keberja secara efektif.
Jadi Pengetahuan tentang lingkungan kerja merupakan perencanaan berhubungan dengan tugas pekerjaan ketika individu harus mengetahi minta dan kemampuan dirinya, mengetahui cara orang lain mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan pekerjaanya, dan mengetahuai alasan orang lain berganti pekerjaan. Kedua konsep tersebut berkaitan dengan pengetahuan tentang tugas-tugas pekerjaan dalam suatu vokasional dan perilaku-perilaku dalam bekerja.